Grow CIO Monthly Newsletter | Agustus 2026
Juli 2026 menjadi bulan pemulihan yang berarti bagi pasar keuangan Indonesia, didukung oleh membaiknya sentimen investor di tengah ketidakpastian makroekonomi yang masih berlangsung. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 10,5% sepanjang bulan, pulih dari kondisi sebagai salah satu indeks dengan kinerja terlemah di antara pasar saham global pada semester pertama tahun ini. Penguatan tersebut didorong oleh kembalinya minat investor asing dan valuasi saham yang semakin menarik setelah mengalami koreksi tajam sebelumnya. Meskipun Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, seperti defisit neraca perdagangan pertama dalam enam tahun terakhir, pelebaran defisit fiskal, pelemahan rupiah, serta ketidakpastian pasca pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia, ketahanan pasar selama Juli 2026 menunjukkan bahwa investor mulai kembali memanfaatkan peluang ketika valuasi berada pada level yang menarik.
Tinjauan Pasar
IHSG mencatatkan salah satu kinerja terbaik di antara pasar saham global sepanjang Juli 2026, mengungguli sebagian besar pasar di kawasan ASEAN maupun negara maju. Arus dana asing meningkat secara signifikan pada paruh kedua bulan, sehingga mendorong kenaikan saham-saham berkapitalisasi besar, terutama di sektor perbankan dan saham-saham likuid lainnya. Meskipun secara year-to-date IHSG masih turun 27,9% dalam mata uang rupiah dan 33,3% dalam dolar AS, penguatan yang terjadi pada Juli 2026 memberikan sinyal bahwa sentimen pasar mulai membaik setelah periode pelemahan yang cukup panjang. Penurunan yang lebih besar dalam dolar AS terutama disebabkan oleh depresiasi rupiah, yang kembali menegaskan pentingnya faktor nilai tukar bagi investor global.
Source: Bloomberg
Source: Bloomberg
Pemulihan pasar dipimpin oleh saham-saham berkapitalisasi besar dengan fundamental yang kuat. Indeks LQ45, IDX30, dan Sri Kehati mencatatkan kinerja yang lebih baik dibandingkan IHSG, menunjukkan bahwa investor tetap memprioritaskan saham-saham perusahaan berkualitas di tengah ketidakpastian ekonomi. Meskipun sejumlah saham berkapitalisasi kecil juga membukukan kenaikan yang signifikan karena aktivitas spekulatif, dominasi saham-saham berkualitas memberikan fondasi yang lebih sehat bagi keberlanjutan pemulihan pasar.
Di pasar obligasi, kondisi relatif stabil. Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 5,75% setelah kenaikan suku bunga kumulatif sebesar 100 basis poin pada Mei dan Juni 2026. Tingkat pengembalian obligasi pemerintah bergerak relatif mendatar selama Juli 2026 karena kenaikan yield mengimbangi pendapatan kupon. Meskipun pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, sempat meningkatkan volatilitas di pasar obligasi dan valuta asing, kondisi pasar kembali stabil dalam waktu yang relatif singkat, mencerminkan ketahanan pasar keuangan Indonesia.
Perkembangan Makroekonomi dan Korporasi
Perekonomian Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan sekaligus peluang. Indonesia mencatat defisit perdagangan bulanan pertama dalam enam tahun terakhir yang terutama disebabkan oleh meningkatnya biaya impor energi, sementara defisit fiskal melebar seiring pertumbuhan belanja pemerintah yang lebih tinggi dibandingkan penerimaan negara. Namun demikian, S&P Global Ratings kembali menegaskan peringkat utang Indonesia di level BBB dengan Outlook Stabil, yang mencerminkan kepercayaan terhadap fundamental ekonomi Indonesia dalam jangka panjang meskipun terdapat tekanan fiskal dalam jangka pendek.
Rupiah masih menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terlemah di Asia sepanjang 2026, dengan depresiasi lebih dari 7% terhadap dolar AS secara year-to-date. Meskipun demikian, intervensi aktif Bank Indonesia telah membantu meningkatkan stabilitas nilai tukar dalam beberapa pekan terakhir. Ke depan, penguatan rupiah akan bergantung pada perbaikan neraca eksternal, disiplin fiskal, serta meningkatnya kepercayaan pasar terhadap kepemimpinan baru Bank Indonesia.
Source: Bloomberg
Kinerja emiten pada semester pertama 2026 menunjukkan hasil yang beragam, namun secara umum tetap cukup tangguh. Sektor perbankan, telekomunikasi, serta beberapa perusahaan konsumsi masih membukukan pertumbuhan laba yang solid, didukung oleh pertumbuhan kredit yang sehat, kualitas aset yang membaik, dan permintaan domestik yang tetap kuat. Beberapa perusahaan berbasis komoditas juga memperoleh manfaat dari harga komoditas yang masih relatif tinggi. Sebaliknya, konglomerasi pertambangan, perusahaan alat berat, serta beberapa BUMN menghadapi tekanan akibat normalisasi harga komoditas, beban subsidi, dan pelemahan rupiah. Kerugian selisih kurs juga masih menjadi tantangan bagi perusahaan yang memiliki biaya operasional dalam denominasi dolar AS.
Prospek Investasi
Kami tetap konstruktif namun selektif memasuki Agustus 2026 seiring pasar yang mulai mengalihkan perhatian pada sejumlah katalis domestik penting. Investor akan mencermati pengumuman APBN 2027, penunjukan Gubernur Bank Indonesia yang definitif, serta hasil evaluasi indeks MSCI dan FTSE, yang berpotensi memengaruhi arus dana asing ke pasar Indonesia. Meskipun harga minyak yang masih tinggi, pelemahan rupiah, dan keberlanjutan fiskal tetap menjadi risiko utama, membaiknya sentimen pasar dan valuasi yang semakin menarik membuka peluang bagi investor dengan horizon investasi jangka panjang.
Kami mempertahankan sikap konstruktif terhadap pasar obligasi pemerintah Indonesia (INDOGB), meskipun volatilitas kemungkinan akan tetap tinggi. Penyesuaian imbal hasil obligasi yang tajam dalam beberapa bulan terakhir menciptakan peluang valuasi yang menarik di tingkat imbal hasil saat ini. Keputusan Bank Indonesia untuk mempertahankan BI Rate pada 5,75% menunjukkan bahwa siklus pengetatan moneter mungkin sedang mendekati puncaknya, dengan kondisi rupiah tetap relatif stabil dan imbal hasil obligasi tetap terjaga dengan baik.
Meredanya inflasi di Indonesia dan kembalinya aliran dana asing menciptakan kondisi pasar yang positif. Obligasi pemerintah Indonesia juga menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara berkembang lain berperingkat layak investasi, sehingga memperkuat daya tarik relatifnya. Kendati demikian, investor akan terus mencermati arah suku bunga global, pergerakan nilai tukar rupiah, dan kebijakan domestik karena faktor-faktor tersebut menjadi pendorong utama volatilitas pasar dalam jangka pendek. Perkembangan global akan terus memengaruhi kinerja pasar, khususnya data ekonomi Amerika Serikat dan arah kebijakan Federal Reserve, mengingat kenaikan kembali imbal hasil US Treasury dapat memberikan tekanan terhadap obligasi negara berkembang, termasuk Indonesia. Namun demikian, kami menilai obligasi pemerintah Indonesia tetap menawarkan profil risk-reward yang menarik, didukung oleh tingkat imbal hasil riil yang relatif tinggi, sentimen investor yang terus membaik, serta fundamental domestik yang tetap solid.
Dalam pengelolaan portofolio, kami tetap mempertahankan tingkat kas yang memadai untuk menjaga fleksibilitas sekaligus memanfaatkan peluang investasi yang muncul. Di pasar saham, kami terus memprioritaskan perusahaan-perusahaan berkualitas tinggi dengan karakter defensif, emiten yang diuntungkan oleh suku bunga yang lebih tinggi, serta perusahaan yang memiliki pendapatan berbasis dolar AS, khususnya di sektor energi dan komoditas. Di sisi lain, kami tetap selektif terhadap sektor yang sensitif terhadap suku bunga, perusahaan konsumsi yang menghadapi tekanan margin, emiten dengan eksposur biaya dolar AS yang tinggi, serta saham dengan tingkat likuiditas yang rendah. Dengan valuasi pasar yang kini jauh lebih menarik dibandingkan awal tahun, kami meyakini bahwa pemilihan saham yang disiplin, pengelolaan risiko yang prudent, serta alokasi aset yang seimbang akan memberikan peluang bagi investor untuk memperoleh hasil yang optimal seiring membaiknya kondisi makroekonomi secara bertahap.